Semarakan Kebaikan sebagai Syiar, Namun Hati-hati dengan penyakit Hati.
- Senin, 03 Maret 2025
- Kajian KAJIAN ISLAMI
- Administrator
- 0 komentar
Sore hari 1 maret 2025 hari pertama puasa Ramadhan di tahunini, tiba-tiba Faruq anak pertama kelas 4 MI bertanya saat menemaninya bermain gedget duduk di teras rumah “ Abi, kapan keliling masjid bawa teh Pu*uk ?”, sontak kaget juga dengan ungkapan pertanyaan tanpa ada narasi pembicaraan sebelumnya, sambil memandangnya sekilas terlihat layarponselnya, ternyata ia sedang melihat tayangan di reel youtube seseorang membagikan nasi kotak takjil ke tetangga rumahnya.
Sedikit banyak terkadang pesan positif mampu merangsangseseorang untuk melakukan tindakan yang sama pula, walaupun pesan tersebut di dokumentasikan dalam rangka komersial, (jangan lupa subcribe and like). Inilah yang dinamakan menggelorakan kebaikan dipermukaan sebagaisyiar dan dakwah, agar nilai-nilai islami menjadi pembiasaandan tradisi peradapan manusia dari generasi ke generasi selanjutnya. Sehingga habit islami ini menjadi power versus dengan kebiasan negative yang mencoba masuk ke dalam generasi Z.
Namun ada yang perlu diwaspadai ketika sebuah kebaikanatau ibadah sudah terpublish dipermukaan dan dipertontonkandi tiktok, youtube, Instagram, status Wa dan lainya.
Akhir-akhir ini yang menjadi fenomena seseorang melivekan kegiatan ibadahnya melalui platfrom medsos, jika kegiatan ibadah atau kebaikan dirinya sendiri yang terpublish dantertontonkan akan sangat berbahaya dan rawan sekal,dibandingkan dengan kegiatan ibadah orang lain yang direkam.
Pembahasan tentang ibadah, menurut Abu A’ala al-Maududiseperti dikutif oleh Prof. Yusuf al-Qardhawi dalam kitab al-‘Ibadah fi al-Islam, bahwa makna awal dari kata ibadahadalah tunduk dan patuh, yakni seseorang budak yang tundukdan patuh kepada majikanya yang menguasainya. Karena seorang budak berada pada posisi yang lemah senantiasamelaksanakan perintah majikanya sebagai bentuk ketaatandan kepatuhan.
Sangat tidak lazim dan tidak sopan jika perintah dan ketaatanyang datangnya dari atas untuk bawahanya agar melakukansatu kebaikan malah tercampuri dan terkotori dengan tendensiniat dalam rangka lainya.
Allah swt berfirmah:
“Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragamakepada-Nya.” [Az-Zumar/39: 2]
Maka jika seseorang ia harus mengekspos dan mepublishkankegiatan kebaikan dan ibadah dirinya, ia harus berhati-hatidengan dua hal utama ini yaitu Niat dan Penyakit Hati. Duahal ini mampu membuat orang tersebut merugi sia-sia darikebaikan dan ibadah yang ia anggap sebagai tabungankebaikan di akhirat nanti, atau sebagai legalitas menjadi orang baik, namun malah menjadi obyek tema keritik beberapaorang atas kegiatan tersebut.
Hal ini telah disinggung oleh Allah swt dalam surah Huudayat 15, 16
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.–Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)
Hal ini berkaitan tentang tema pembahasan niat. Inilah yang menjadi alasan ulama kenapa tema Niat diletakan pada awalbab di beberapa kitab, contoh kitab Hadis Syarh al-Arbiin an-Nawawi. Maka niat adalah menjadi tolok ukur suatu bentukamalan, diterima atau tidaknya tergantung niat dan banyaknya pahala yang didapat atau sedikit pun tergantung niat pula.
Untuk itu niat untuk melakukan kebaikan dan ibadah urusannya sangat penting, seyogyanya ia harus menata dan medisiplinkan niat ketika memang harus melakukan kegiatan tersebut.
Jika niat lolos dari kewaspadaan seseorang maka ia akan rawan tersusupi yang namanya penyakit hati yaitu Riya’, ini yang harus diwaspadai.
Dalam ceramah Gus Baha, membahas persoalan ini dengan merujuk pada pandangan Imam Ghazali. Menurutnya, jika seseorang mampu menjaga diri dari riya atau pamer, maka sebaiknya amal diperlihatkan agar bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Imam Ghazali mengingatkan bahwa ada kondisi tertentu di mana amal harus diperlihatkan agar bisa menjadi tuntunan bagi orang lain.
Menurut Gus Baha, menunjukkan amal juga dapat menjadi motivasi bagi orang lain untuk ikut berbuat baik. Ketika seseorang melihat contoh nyata, maka akan lebih mudah baginya untuk mengikuti dan meneladani kebaikan tersebut.
Namun, ada batasan yang perlu diperhatikan. Jika amal diperlihatkan dengan niat mencari pujian atau penghormatan, maka bisa berubah menjadi riya, yang justru merusak nilai ibadah itu sendiri.
Dan yang bisa menata niat dan jauh dari penyakit riya adalah Ilmu, sembari mengekspos kebaikan lengkapi diri dengan ilmu etika bijak bermedsos, etika dalam beribadah maka akan lahir sebuah batasan-batasan dalam kegiatan kebaikan dan ibadah. Dan yang pastinya selalu minta pertolongan kepada Allah swt, agar tidak putus asa berbuat baik dan dijauhkandari keburukan. Maka gelorakan dan semarakan nilai-nilai kebaikan dengan disiplin niat dan akhlaknya, agar kebaikan bernilai ibadah yang menjadi ispirasi dana mal jariyah suatu saat nanti
Penulis : H Didik Purnomo LC MAg Tim ismuba SMKMATIG
Artikel Terkait
SMK Muhammadiyah 3 Gresik Bekali Siswa dengan Program Mengaji dan Tahfidz Qur'an
Sabtu, 09 Agustus 2025
Malam Munajah Siswa dan Walimurid Kelas XII SMK Muhammadiyah 3 Gresik Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1446 H
Kamis, 27 Februari 2025